Tanya:
Mengapa kita harus memikirkan kesehatan kita secara serius meskipun saat Ini kita lagi dalam kondisi sehat wal afiat ?
Jawab:
Mungkin belum pernah timbul pertanyaan yang serius dalam masalah kesehatan di benak kita apabila saat ini kita dalam kondisi sehat, suami/istri kita sehat, dan demikian pula anak-anak kita semua sehat. Namun apakah apakah kita yakin 100 % kondisi kesehatan tersebut terus dapat kita nikmati ?...sampai kapan ?.
Bagaimana kalau suatu saat kitaa atau bagian dari keluarga tercinta harus mengalami sakit dan perlu perawatan di rumah sakit ? siapkah kita dengan biayanya ?, adakah tabungan khusus untuk ini ?, kalau ada berapa besar tabungan tersebut harus kita alokasikan untuk biaya kesehatan sewaktu-waktu ? sepuluh – duapuluh juta cukup ? atau seratus - dua ratus juta cukup ?. Kalau kita tidak punya tabungan barangkali ada anggota keluarga yang bersedia menolong kita pada saat dibutuhkan, namun berapa besar keluarga tersebut bersedia membantu kita ? bersediakah mereka membantu sepuluh-duapuluh juta ?, atau seratus – dua ratus juta ?. ...tidak pernah ada yang tahu pasti berapa cukupnya biaya kesehatan ini harus kita alokasikan.
Sebagian dari kita mungkin termasuk segolongan kecil yang beruntung dari penduduk Indonesia yang sudah memperoleh jaminan kesehatan dari pemerintah ataupun dari perusahaan tempat kita bekerja. Apakah kita puas dengan layanan dari jaminan tersebut ?, Apakah premi atau kontribusi yang dibebankan kepada kita atau perusahaan kita sudah adil ? kalau kita selama ini sehat bertahun-tahun dan alhamdulillah tidak pernah dirawat di rumah sakit, kemana larinya premi atau iuran yang kita bayar bertahun-tahun tersebut ?
Apabila kita tidak yakin 100% punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita perlu mempertimbangkan solusi pengobatan menggunakan tuntunan yang sesuai dengan syariah beserta pengelolaan biaya kesehatan secara syariah yang kami rangkum dalam seluruh tanya jawab di buku ini.
Buku ini sengaja kami susun dalam format tanya jawab agar memudahkan pembaca melompat dari satu pertanyaan ke pertanyaan lainnya sesuai dengan informasi yang ingin diperolehnya. Dengan format tanya jawab demikian, pembaca tidak harus membaca seluruh bab secara berurutan melainkan cukup pada pertanyaan atau serangkaian pertanyaan yang menjadi focus keingin tahuaannya.
Biaya Kesehatan dan Pengelolaannya Secara Islami Tanya:
Mengapa biaya kesehatan terus meningkat dari waktu ke waktu ?
Jawab:
Masalah kesehatan adalah masalah yang sangat serius bagi mayoritas penduduk Indonesia, tidak hanya masyarakat dengan status ekonomi rendah yang bermasalah bahkan juga masyarakat yang status ekonominya tertinggi sekalipun. Diperkirakan hanya kurang dari sepertiga masyarakat dengan status ekonomi tertinggi yang telah mendapatkan perlindungan kesehatan dalam berbagai bentuknya, untuk masyarakat dengan status ekonomi terendah tentu posisinya jauh lebih buruk lagi.
Masalah ini diperburuk dengan kenyataan bahwa biaya kesehatan untuk setiap individu dari waktu ke waktu akan naik secara ekponensial yang didorong oleh setidaknya tiga factor yaitu factor usia, inflasi dan memburuknya kwalitas lingkungan.
Faktor usia misalnya, pada tahun yang sama orang yang berusia 35 tahun memiliki index biaya kesehatan 100 maka orang yang berusia 60 tahun secara statistik akan memiliki index biaya kesehatan 334, sedangkan orang yang berusia 80 tahun index biaya kesehatannya akan mencapai 460. Artinya secara statistik pada tahun yang sama orang yang berusia 60 tahun akan memerlukan biaya kesehatan sekitar 3.3 kali dari orang yang berusia 35 tahun, sedangkan orang yang berusia 80 tahun akan memerlukan biaya kesehatan 4.6 kalinya dari yang berusia 35 tahun.
Inflasi juga jelas bahwa factor-faktor biaya kesehatan baik itu berupa obat, peralatan medis, dan sarana penunjang kesehatan terus meningkat dari tahun ketahun.
Faktor ketiga yang sangat mengerikan dampaknya pada masyarakat luas adalah memburuknya kwalitas lingkungan, sehingga muncul berbagai penyakit-penyakit baru yang sekian tahun lalu tidak dikenal. AIDS, flu burung, SARS adalah penyakit-penyakit mematikan yang relative baru dikenal dalam beberapa dekade belakangan. Kita sungguh sulit membayangkan penyakit-penyakit baru apalagi yang akan muncul dalam beberapa decade kedepan.
Apabila ketiga factor tersebut digabungkan, kemudian diproyeksikan beberapa tahun kedepan – maka hasilnya sungguh mengkawatirkan. Ambil contoh orang yang saat ini berusia 35 tahun dengan index biaya kesehatan 100, maka pada saat orang yang sama berusia 60 tahun – yaitu dalam 25 tahun yang akan datang – maka dapat diproyeksikan index biaya kesehatannya akan mencapai 2479, dan pada saat yang bersangkutan berusia 65 tahun – index biaya kesehatan menjadi 5144. Artinya biaya kesehatan rata-rata orang yang saat ini berusia 25 tahun, akan naik hampir 25 kalinya untuk orang yang sama dalam dua puluh lima tahun yang akan datang, dan apabila yang bersangkutan masih hidup lima tahun kemudian (usia 65 tahun) maka biaya kesehatannya akan mencapai lebih dari 51 kali biaya kesehatan dia saat ini.
Tanya:
Apa ada solusi yang Islami untuk mengatasi biaya kesehatan yang terus meningkat tersebut ?
Jawab:
Dalam Alqur’an Surat Al Maidah Ayat 2 Allah berfirman ”... dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…..”. Kemudian Rosulullah juga bersabda ” Orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih saying mereka seperti satu badan. Apabila salah satu anggota badan itu menderita sakit, maka seluruh badan merasakannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari tuntunan tersebut, maka tiada jalan lain bahwa sesama anggota masyarakat harus tolong-menolong satu sama lain untuk mengatasi masalah bersama tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita bisa melakukan tolong-menolong secara efektif dan dengan komitmen penuh untuk saling menolong saudara kita secara maksimal; saudara kita yang sakit harus ditolong dengan pengobatannya sampai sembuh. Menjenguk mereka yang sakit sangat- sangat dianjurkan, begitu pula meringankan beban saudara kita yang kesusahan. Hal ini semua dapat dilakukan apabila kegiatan tolong menolong tersebut dikelola secara amanah dan sistematis sehingga terjalin mekanisme yang optimal, yang sehat dan berkecukupan berkontribusi membantu yang sakit dan lagi membutuhkan bantuan. Pada saatnya nanti bergantian, orang yang tadinya sehat dan berkecukupan sekian tahun yang akan datang kesehatannya memburuk demikian pula kemungkinan kemampuan keuangannya (misalnya pensiun) , pada saat itulah orang lain ganti membantu dia.
Tanya :
Apakah sistem ideal solusi Islami bisa berjalan di jaman modern ini ?
Jawab:
Tentu bisa – yaitu melalui mekanisme tolong menolong yang dikelola secara modern dalam bentuk Asuransi Syariah ataupun Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) yang dikelola secara syariah. Berbeda dengan konsep Asuransi Konvensional yang prinsip dasarnya memindahkan risiko dari masyarakat (Tertanggung) ke perusahaan asuransi (Penanggung) sehingga dalam mengatasi masalah yang diuraikan tersebut diatas konsep asuransi konvensional bisa merugi yaitu apabila premi yang dikumpulkan tidak sebanding dengan biaya risiko kesehatan yang naik secara eksponensial, pada saat yang lain anggota masyarakat dapat merugi dengan membayar premi berlebihan untuk sesuatu yang tidak pasti (risiko kesehatan) – karena praktek yang demikian maka operasi Asuransi Konvensional mengandung apa yang disebut Gharar yang dilarang dalam syariah Islam.
Asuransi syariah prinsip dasarnya adalah tolong-menolong sesama anggota masyarakat yang difasilitasi oleh operator yang bisa berupa(perusahaan) Asuransi Syariah ataupun berupa JPKM. Karena operator (perusahaan) Asuransi Syariah (atau JPKM) hanya wakil dari sekelompok masyarakat yang saling bekerjasama tolong-menolong tersebut maka dia tidak berhak mengambil untung dari kelebihan premi (dalam asuransi syariah disebut kontribusi, dalam JPKM disebut iuran anggota). Apabila kontribusi yang dikumpulkan oleh operator melebihi biaya yang ditanggung, maka kelebihan tersebut adalah milik kelompok masyarakat yang ikut sebagai peserta program asuransi syariah tersebut. Sebagai wakil peserta, operator hanya berhak menerima Wakalah Fee yang besarnya disepakati didepan. Atau apabila disepakati, operator juga berhak memperoleh sebagian hasil investasi dari dana kontribusi yang terkumpul tersebut.
Tanya:
Mengapa kita perlu berasuransi kesehatan secara syariah atau ikut JPKM yang dikelola secara syariah ?
Jawab:
Dengan prinsip tolong-menolong, kemudian kelebihan kontribusi yang terkumpul tetap milik peserta (bukan menjadi keuntungan perusahaan asuransi sebagaimana di asuransi konvensional); maka peserta asuransi kesehatan dengan konsep syariah atau JPKM syariah akan mempunyai tiga kebajikan sekaligus. Pertama apabila kontribusi yang dibayarkan digunakan untuk membiayai pengobatan peserta lain, maka dia memperoleh kebajikan telah ikut menolong saudaranya yang sakit . Kedua adalah apabila dia sendiri sakit, maka sejumlah peserta lain bersama-sama menolong pengobatan dia – yang bisa jadi biayanya jauh diluar kemampuannya apabila harus membiayainya sendiri. Kebajikan ketiga apabila dana kontribusi tersebut tidak terpakai, atau hanya terpakai sebagian – maka kelebihannya tetap tercatat atas nama peserta yang terakumulasi dari waktu kewaktu semakin membesar. Dana kelebihan kontribusi (semasa sehat) ini akan terus menerus tembuh sehingga dapat mengimbangi skenario kenaikan biaya kesehatan yang naik secara eksponensial tersebut diatas.
Grafik dibawah ini memberikan illustrasi bagaimana peserta Asuransi Kesehatan secara syariah akan dapat mengendalikan biaya kesehatannya dari waktu ke waktu. Sebagi contoh: Apabila seorang yang saat ini berusia 35 tahun akan memerlukan biaya kesehatan mendekati 51 kalinya pada saat nanti yang bersangkutan berusia 60 tahun; maka melalui konsep tolong menolong dalam Asuransi Syariah; maka yang bersangkutan hanya perlu membayar sekitar 5 kali dari biaya sekarang pada saat yang bersangkutan berusia 65 tahun. Bahkan pada tahun-tahun tertentu yang bersangkutan dapat dibebaskan sama sekali dari membayar biaya kontribusi – yaitu pada tahun-tahun dimana akumulasi kelebihan kontribusi tahun-tahun sebelumnya telah melebihi biaya kontribusi tahun berikutnya.
Kesehatan dan Aqidah Tanya:
Apa hubungannya masalah kesehatan dengan aqidah kita ?
Jawab:
“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,” demikianlah Al Qur’an bertutur diantara kalimat-kalimat tauhid yang diutarakan oleh Ibrahim A.S. dalam surat Ash Shu’ara : 80.
Kita yang khususnya hidup di Indonesia di jaman ini, dapat lebih mudah memahami mengapa ayat penyembuhan tersebut diungkapkan di Al qur’an diantara kalimat-kalimat tauhid. Hal ini menjadi sangat relevan sekarang ini karena mayoritas kemusrikan datang dan merusak keimanan umat Islam melalui jalur pengobatan.
Ketika pengobatan medis menjadi terlalu mahal bagi sebagian besar umat Islam, atau karena memang keterbatasannya pengobatan medis tidak selalu memberikan hasil yang optimal, maka pengobatan alternative sering dianggap dapat memberikan solusi. Masalahnya timbul apabila pengobatan alternative tersebut menggunakan cara-cara yang tidak masuk akal dan cara-cara yang tidak ada tuntunannya, maka pengobatan altertanif tersebut hampir pasti mengandung kemusrikan.
Umat Islam diwajibkan berikhtiar dalam mencari penyembuhan apabila sakit, namun penyembuhan tersebut haruslah sesuai dengan akal sehat – karena Islam adalah agama yang masuk akal- berobat ke dokter/rumah sakit adalah yang masuk kategori yang dianjurkan ini. Atau terkadang ilmu kita belum sampai untuk memikirkannya secara akal sehat namun ada tuntunannya dari Uswatun Hasanah kita Rasulullah SAW. Contoh pengobatan yang masuk kategori ini adalah pengobatan dengan bekam dan pengobatan dengan madu.
Tanya :
Apakah ada tuntunannya madu sebagai obat dalam Al Qur’an dan Al Hadits ?
Jawab :
Nash Al Qur’an yang secara sangat jelas mengungkap bahwa madu sebagai obat adalah ayat berikut :
“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”. (QS An- Nahl: 69).
Sedangkan hadits shahih Rasulullah S.A.W yang mengungkapkan madu sebagai obat adalah sebagi berikut: Dari Ibnu Abbas R.A. dari Rasulullah S.A.W. : ”Kesembuhan dari penyakit itu dengan melakukan tiga hal : berbekam, minum madu dan dibakar dengan besi panas. Tetapi aku melarang umatku membakar dengan besi panas itu”. HR. Shahih Bukhari. Meskipun dengan ayat Al Qur’an yang jelas dan hadits yang shahih sekalipun, mungkin kita masih ragu bahwa madu lah obat bagi penyakit kita – maka hal inipun manusiawi dan Rasulullah S.A.W. pun memberikan contoh yang komplit bagi kita dengan hadits shahih berikut ini :
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Kudri : Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah S.A.W. dan berkata, “ Saudaraku sedang mengalami sakit perut” kemudian Rasulullah, S.A.W berkata kepada laki-laki tersebut, “Suruh dia minum madu”, Laki-laki tersebut kembali kepada Rasulullah, S.A.W dan beliau berkata kembali “Suruh dia minum madu”, Laki-laki tersebut kembali untuk ketiga kalinya dan Rasulullah tetap berkata “Suruh dia minum madu” , kemudian laki-laki itu kembali dan berkata “ Sudah saya lakukan ya Rasulallah”, kemudian Rasulullah S.A.W. bersabda “Allah telah menyampaikan yang benar, tetapi perut saudaramu berbohong, suruh dia minum madu”. Kemudian laki-laki itu meminta saudaranya untuk kembali minum madu dan dia sembuh.
Tanya :
Mengapa dalam hal pengobatanpun kita harus memilih yang Islami ?
Jawab:
Apabila kita atau salah satu dari anggota keluarga kita ada yang sakit, maka berusaha mencarai pengobatan untuk penyembuhannya adalah termasuk medan ikhtiar yang disunahkan-meskipun hanya Allah-lah yang bisa menyembuhkannya. Namun ikhtiar yang mana yang kita harus tempuh ? jawabannya tergantung dengan banyak hal.
Ikhtiar pertama yang paling umum dilakukan adalah berobat ke dokter atau rumah sakit. Ikhtiar ini bagian dari yang diijinkan, banyak sekali temuan medis yang memang akhirnya bisa menjadi perantara penyembuhan kita - namun ingat bahwa hanya Allahlah yang menyembuhkan kita.
Meskipun banyak yang berhasil, namun ikhtiar dengan ke dokter maupun rumah sakit memang banyak juga yang tidak berhasil atau paling tidak tidak menyembuhkan pasien secara 100 %.
Masalah lain dengan pengobatan melalui obat hasil pabrik farmasi besar dan berobat ke rumah sakit sering dianggap terlalu mahal. Hal ini tidak hanya terjadi di negara miskin dengan tingkat penghasilan penduduk yang rendah seperti Indonesia, tetapi hal yang sama juga dirasakan oleh penduduk negara maju seperti Amerika Berikat. Bahkan dalam salah satu buku yang terbit akhir tahun 2005 lalu ada disebutkan bahwa juaan penduduk Amerika bangkrut setiap tahunnya gara-gara tidak mamapu membiayai biaya kesehatannya. Lebih jauh buku tersebut juga meramalkan kebangkrutan Amerika kurang dari dua puluh tahun yang akan datang karena biaya kesehatan yang tidak tertahankan lagi. gejalanya sudah ada yaitu di bulan November tahun 2005 lalu ikon industri mereka General Motor sudah berencana merumahkan 30,000 buruh dan menutup 12 pabrik karena biaya kesehatan yang tidak tertahankan tersebut.
Nah kembali ke masalah kita, biaya kesehatan secara konvensional (dengan obat produksi pabrik dan/atau perawatan rumah sakit) yang sering tidak mampu kita tanggung ini - membuat sebagian besar masyarakat kita lari ke pengobatan alternatif.
Sayangnya pengobatan alternatif yang ada di masyarakat banyak yang mengandung syirik yang justru membahayakan akidah.
Musibah kesehatan yang seharusnya menjadi pengurang dosa-dosa kita apabila kita bersabar - malah sering menjadi musibah yang lebih besar - menjadi musibah akidah karena ketidak sabaran kita dalam berikhtiar di jalanNya.
Ada dua ciri pengobatan yang mengandung syirik dan harus kita hindari yaitu pertama apabila pengobatan yang dilakukan tidak masuk akal - misalnya mengoperasi tanpa alat operasi, memindahkan penyakit ke binatang dlsb. Kedua apabila pengobatan tersebut tidak ada tuntunannya. Bisa jadi akal manusia belum sampai kesana, tetapi apabila ada tuntunannya maka pengobatan ini boleh dilakukan.
Peengobatan yang belum sepenuhnya terjangkau dengan akal manusia sekarang namun ada tuntunannya adalah pengobatan dengan Bekam dan pengobatan dengan madu.
Khususnya madu, belakangan banyak sekali bukti-bukti ilmiah yang akhirnya menguatkan bahwa madu adalah obat yang bahkan lebih baik dari obat buatan pabrik. Madu juga merupakan obat yang murah, dan bahkan bisa diternakkan sendiri oleh kita apabila kita ingin meyakinkan keaslian hasilnya.
Jadi, ada obat yang murah dan sesuai akidah - yaitu madu - mengapa kita tertipu dengan yang mengandung syirik ?.
Tanya:
Bagaimana kita yakin bahwa solusi pengobatan Islami cukup bagi kita ?
Jawab:
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda “Setiap penyakit ada obatnya. apabila obat telah mengenai penyakit, maka akan mendatangkan kesembuhan dengan izin Allah,”. (HR Muslim). Di kesempatan lain Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At tirmidzi ” ..Allah menciptakan obat bagi setiap penyakit yang Dia ciptakan...kecuali penyakit Tua”.
Jadi sebagai umat Islam yang menjadikan Al Qur’an dan Al Hadits sebagai pegangan kita, kita wajib percaya bahwa Allah lah yang menurunkan obat bagi setiap penyakit, hal ini juga sejalan dengan salah satu kalimat tauhid yang diucapkan Nabi Ibrahim A.S. dalam surat As Shu’ara 80 ” Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku”.
Ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadits tersebut seharusnya cukuplah menjadi dasar kita dalam setiap upaya mencari penyembuhan dari penyakit yang kita atau keluarga kita derita. Kelihatannya mudah, namun kita sering lupa atau terjebak dalam dua ekstrim dalam mencari penyembuhan ini.
Ekstrim pertama adalah orang-orang yang hanya mengandalkan upaya penyembuhannya melalui berbagai pengobatan medis dan lupa atau tidak tahu bahwa hanya Allah-lah yang bisa menyembuhkan penyakit itu. Ektstrim kedua adalah orang yang melupakan ikhtiar.
Disatu sisi kita wajib berupaya mencari obat untuk penyembuhan penyakit kita, disisi lain kita harus sadar bahwa obat tersebut hanyalah sarana bagai datangnya pertolongan Allah dalam bentuk penyembuhan. Sebagian obat sebagai sarana penyembuhan yang merupakan pertolongan Allah ini ada yang secara explisit diungkapkan sendiri oleh Allah seperti Madu yang disebut dalam QS An-Nahl 69 ”...dan sebagai obat bagi manusia”. Sebagian lain sarana pengobatan tersebut tidak diunkapkan oleh Allah secara langsung tetapi sepenuhnya disediakan olehNya secara cukup di alam. Manusia-manusia yang menekuni dan menggali karunia Allah tersebut (para ilmuwan) sebagian akhirnya berhasil menemukan berbagai obat untuk berbagai penyakit.
Karena tidak semua orang mampu meneliti dan mencari sendiri sarana pengobatan yang ada di alam, maka sebagian besar umat manusia menggantungkan pengobatannya dari hasil riset para ilmuwan dan pabrik farmasi besar – yang sayangnya kadang menjadi terlalu mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian umat manusia. Tidak hanya dinegeri-negeri miskin, di negara kaya seperti Amerika-pun jutaan orang bangkrut gara-gara tidak mampu membayar pengobatan. Mahalnya biaya pengobatan ini antara lain karena biaya riset yang mahal (dalam menemukan obat/bahan obat), biaya pengembangan yang mahal, biaya distribusi obat yang mahal dst. Seluruh sistem pengobatan modern inilah yang membuat biaya pengobatan mahal. Nah padahal Allah ketika menurunkan pertolonganNya tidak memilih hanya yang mampu bayar saja yang ditolong, lantas bagaimana sistem pengobatan bagi seluruh umat yang sejalan dengan aqidah kita tersebut ?.
Mari sekarang kita tadaburi ayat-ayat dan hadits mengenai pengobatan tersebut, pada saat bersamaan kita tadaburi alam. Dari sabda Rasulullah ” Setiap penyakit ada obatnya...”, mari kita lihat yang dilakukan oleh para peneliti obat-obatan, para tabib China dari ribuan tahun lalu dan berbagai ahli pengobatan di berbagai bangsa dan zaman...mereka selalu menemukan obat untuk penyakit yang muncul pada zamannya. Maka benarlah sabda Rasulullah tersebut. Apa yang dilakukan oleh para tabib China sejak ribuan tahun lalu sampai dengan para peneliti obat di zaman modern ini sebenarnya adalah sama yaitu menggali yang sudah ada di alam (disediakan oleh Allah) kemudian meramu/mengolahnya sehingga menjadi obat yang siap pakai. Yang dilakukan sama tetapi prosesnya yang berbeda. Di zaman modern ini pencarian obat melibatkan berbagai teknologi dan proses produksi...yang akhirnya menjadikan obat mahal. Lantas apa kita akan kembali ke zaman ribuan tahun lalu untuk mencari obat yang murah ? Tentu juga tidak, tetapi kita bisa mengikuti petunjuk Al Qur’an untuk mencari obat bagi kita.
Petunjuk Al Qur’annya kan jelas bahwa ”... dari dalam perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya sebagai obat bagi manusia...”. karena Al Qur’an adalah kitab akhir zaman, diturunkan kepada nabi akhir zaman maka kebenarannya akan terjaga sampai akhir zaman. Artinya hasil yang keluar dari perut lebah tersebut sebagai obat yang disebut di Al Qur’an akan berlaku juga sampai akhir zaman, termasuk untuk obat-obat penyakit yang sekarang belum muncul atau sudah muncul namun belum ketemu obatnya.
Para tabib China dan para ilmuwan modern mencari obat antara lain dari bahan tanaman, mereka melakukan kajian terhadap ribuan tanaman dari berbagai daerah untuk menemukan zat kimia yang dapat menjadi penyembuh yang oleh ahli kimia disebut phytochemicals. Meskipun akhirnya menemukan obat cara ini adalah cara yang sukar (dan juga mahal)– the hard way – karena tanpa petunjuk.
Nah mengapa madu (yang keluar dari perut lebah) menjadi cara yang mudah dan obat yang murah bagi seluruh umat ? karena proses pencariannya/penelitiannya tidak memakan biaya yang besar dan tidak memerlukan teknologi tinggi untuk memprosesnya – Allah sendiri yang memberi petunjuk ke kita bahwa obat tersebut tersedia dalam kondisi siap saji. Bukti ilmiahnya adalah, diseluruh dunia lebah selalu berhasil menemukan Nectar bunga untuk bahan madu, phytochemicals dari berbagai tumbuhan untuk memproduski Propolis, Pollen dan Nectar untuk produksi Royal Jelly dan pollennya sendiri yang juga mengandung berbagai phytochemicals. Phytochemicals yang di seleksi dan dikumpulkan oleh lebah dari tumbuhan-tumbuhan terpilih tersebut ternyata terbukti sangat efektif untuk berbagai obat antibiotik, anti bactecial, anti fungal, anti allergic dlsb. Dari mana lebah memperoleh ini semua ?, dari alam dimana dia hidup. Kita hidup berdampingan dengan lebah di lingkungan yang sama, namun lebah-lebah pekerja tahu tumbuhan-tumbuhan mana yang efektif untuk menghasilkan propolis misalnya – sedangkan kita tidak tahu, kalaupun toh kita akhirnya tahu selalu dengan cara yang mahal dan sukar tersebut – itupun hanya sedikit dari kita yang tahu yaitu para ilmuwan dan peneliti obat.
Dengan mengikuti petunjuk Al Qur’an, manusia akan lebih mudah menemukan obat-obat tersebut karena tidak usah susah payah meneliti mana-mana tumbuhan yang dapat menjadi obat dan sebaliknya, cukup mengikuti pilihan lebah yang atas perintah Allah telah dimudahkan jalannya (QS An Nahl 68). Nah mau hidup dengan susah tanpa petunjuk ? atau mau dengan cara yang mudah mengikuti petunjukNya dalam segala aspek kehidupan?.
Madu – Obat Bagi Seluruh Umat Sampai Akhir Zaman Tanya:
Apa sih yang disebut sebagai Madu ?
Jawab:
Madu adalah cairan alami yang umumnya memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah Madu dari sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian lain dari tanaman (extra floral nectar) atau ekskresi serangga.
Dalam koloni lebah madu, madu sebenarnya berfungsi sebagai makanan utama bagi masyarakat lebah yang tinggal di koloni tersebut. Namun karena produksi madu dari koloni lebah ini pada umumnya lebih dari yang mereka butuhkan, maka kemudian manusia ikut mengambil kelebihan produksi makanaan lebah tersebut untuk berbagai kebutuhannya. Disinilah nampak kebenaran Al Qur’an di surat Al Baqarah ayat 29 yang berbunyi ” Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…”
Tanya:
Apa yang membuat madu berbeda dengan gula ?
Jawab:
Dari sisi kandungan kalori madu tidak jauh berbeda dengan gula, satu kilogram madu dapat memberikan sekitar 3500 kalori sedangkan satu kilogram gula dapat memberikan sekitar 3900 kalori. Di luar kalori ini madu sangat berbeda jauh dengan gula. Berikut adalah point-point dimana madu berbeda dengan gula.
Madu tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, hampir seluruh zat dalam madu dapat terserap oleh tubuh dan hanya kurang dari 1/200 bagian madu yang akan dibuang oleh tubuh. Gula merupakan hasil dari berbagai proses pemanasan dimana asam organic, protein, enzyme dan vitamin yang ada di alam (tebu atau beat) terekstraksi atau rusak dan bahkan bahan-bahan berbahaya seperti hydrochloric, phosphoric dan sulphuric acids masuk kedalam gula pada proses pembuatannya tersebut.
Madu adalah pemanis alami yang proses pembuatannya tidak melibatkan sentuhan manusia. Gula adalah proses konsentrasi, denaturalisasi dan bahkan polusi terhadap hasil alam(tebu) dimana melalui proses pemanasan dalam pembuatan gula menghancurkan zat-zat yang sangat penting seperti protein, enzyme dan asam-asam organic tersebut.
Madu mengandung unsure-unsur kehidupan termasuk berbagai mineral yang terkandung di dalamnya. Gula putih khususnya yang semula berasaal dari sari tebu berwarna gelap dan mengandung mineral, dalam proses yang disebut defecation, mineral-mineral tersebut ‘terhilangkan’ karena apabila tidak maka tidak akan menjadi kristal-kristal gula putih.
Pemanis terbaik adalah dari kelompok gula sederhana karena untuk berasimilasi dalam tubuh tidak memerlukan aktifitas pencernaan yang berat, gula sederhana ini terkandung secara melimpah di dalam madu. Gula putih (dari tebu) untuk perlu pekerjaan yang berat dari system pencernaan dan kerja keras dari pankreas utnuk memproduksi insulin, penggunaan gula tebu secara terus menerus membuat kemampuan kerja pancreas menurun yang kemudian menimbulkan penyakit diabetis.
Perbedaan-perbedaan tersebutlah yang membuat penemu insulin yaitu DR. Banting pada tahun 1929 sudah menyatakan bahwa “ Di Amerika Serikat kasus penderita diabetis meningkat sejalan dengan penggunaan gula putih (tebu), dalam pembuatan gula tebu melalui proses pemanasan dan kristalisasi sesuatu telah berubah dan menghasilkan bahan makanan yang berbahaya untuk dikonsumsi ”. Pendapat ini dikuatkan oleh ahli lain DR. Serge Veronoff yang menyatakan bahwa umur manusia rata-rata dapat mencapai 120 tahun apabila dapat meningalkan tiga bahan pangan yaitu gula, tepung dan garam.
Menyangkut kehebatan madu dibandingkan gula DR. Harvey W. Willey, sesepuh ahli kimia dari Department of Agricultural and Director of Bureau of Foods, Sanitation and Healths – USA dalam suratnya kepada American Honey Institute antara lain mengingatkan untuk hati-hati mensosialisasikan madu, karena apabila semua orang tahu kelebihan madu terhadap gula maka akan timbul masalah lain yaitu tidak cukupnya produksi madu untuk memenuhi seluruh kebutuhan penduduk, dampaknya harga madu akan melonjak sangat tinggi – sehingga madu tidak lagi menjadi bahan pangan/kesehatan yang murah dan terjangkau.
Anda yang beruntung membaca buku ini dan mengetahui kehebatan madu dibandingkan gula, sudah seharusnya mengganti seluruh menu makan dan minum Anda yang selama ini menggunakan gula dengan madu…selagi madu belum menjadi barang yang terlalu mahal untuk dibeli seperti dikawatirkan oleh DR. Willey tersebut.
Tanya:
Bagaimana komposisi zat yang terkandung di dalam Madu ?
Jawab:
Madu mengandung air 13% – 22 % dari beratnya (tergantung jenis produknya. Sebagai contoh madu dari Rumah Madu tipe classic mengandung air +/-18% ; tipe Gold +/-15% dan tipe platinum mendekati 13%) dan komposisi terbesarnya adalah monosakarida dalam bentuk glukosa dan fruktose (75% - 85%). Selebihnya dalam persentase yang kecil adalah sukrosa, maltosa dan yang sangat penting adalah apa yang disebut sebagai phytochemicals dari berbagai jenis tumbuhan, tergantung dari mana lebah memperoleh nectar-nya untuk memproduksi Madu. Phytochemicals adalah nama umum zat kimia alami yang aktif secara biologis yang berasal dari tanaman.
Setiap tanaman memiliki phytochemical-nya sendiri-sendiri dan memiliki nama khusus tergantung tanamannya. Misalnya tomat dan semangka menghasilkan lycopene, teh dan bawang menghasilkan quercetin, anggur menghasilkan anthocyanin dlsb. Phytochemicals inilah yang antara lain berperan aktif yang membuat Madu memiliki berbagai khasiat pengobatan.
Sumber rujukan lain berdasarkan National Honey Board (USA) – madu secara umum mengandung hal-hal berikut:
Komponen Utama Madu Persentase (+/-)
Air 17.1
Fruktosa 38.5
Glukosa 31.0
Sukrosa 1.5
Maltosa dan gula pereduski lainnya 7.2
Trisakarida dan karbohidrat lainnya 4.2
Sub Total 99.5
Konstituen minoritas termasuk vitamin, mineral, asam amino dslb. 0.5
Total 100
Tanya :
Bagaimana Madu bisa berkhasiat untuk pengobatan dan bagaimana cara kerjanya ?
Jawab:
Madu memiliki khasiat pengobatan untuk berbagai penyakit karena memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
• Madu bersifat Herbal Tonic dari berbagai phytochemical yang terkandung didalamnya. Phytochemical ini selain membantu penyembuhan juga membantu metabolisme tubuh. Salah satu kelas phytochemical yang penting untuk pengobatan adalah apa yang disebut flavonoid yang berasal dari berbagai tanaman pangan dan tanaman obat (di alam terdapat sangat banyak tanaman obat yang tidak selalu diketahui oleh manusia, tetapi lebah mengetahuinya).
• Madu bersifat sebagai antioxidant yang akan mengendalikan radikal bebas di dalam tubuh kita. Radikal bebas atau juga biasa disebut Reactive Oxygen Metabolities (ROM) ini apabila tidak dikendalikan menyebabkan inflamasi akut, panas dalam tubuh dan bengkak di sekitar luka. ROM yang tidak terkendali juga menyebabkan inflamasi kronis seperti anthritis, asma, tendonitis dan borok pada luka. Dengan pengendalian antioxidant dari Madu, ROM dapat bekerja efektif untuk tubuh kita tetapi tidak sampai menimbulkan inflamasi yang akut maupun yang kronis.
• Madu bersifat antibiotic, antiseptic dan antifungal yang menghambat atau menghentikan pertumbuhan berbagai bakteri patogen, microorganisme dan juga jamur.
• Melalui kadar airnya yang rendah dan sifat hygrokopisnya Madu menyerap cairan dalam bakteri, jamur dan microorganisme lain sehingga mereka tidak dapat tumbuh. Sifat dan cara kerja ini yang membutak Madu efektif untuk luka luar.
• Ketika Madu bercampur dengan cairan tubuh, enzym glucose oxidase yang terkandung didalamnya akan aktif dan menghasilkan apa yang disebut Hydrogen Peroksida. Hydrogen Peroksida sangat efektif berperan sebagai antiseptic dan anti-inflamatory.
Tanya :
Apakah ada bukti-bukti ilmiah yang dapat menunjukkan keberhasilan pengobatan dengan Madu ?
Jawab:
Berikut adalah beberapa contoh yang dapat menjadi bukti ilmiah keberhasilan Madu sebagai obat
• Pada tahun 1991 di negeri barat telah dilakukan eksperimen pengobatan terhadap luka bakar dengan menggunakan Madu dibandingkan dengan pengobatan modern silver sulfadiazine (SS). Hasilnya setelah 7 hari, kelompok yang diobati dengan Madu 91% bebas dari infeksi sedangkan yang diobati dengan SS hanya 7 % yang bebas infeksi. Setelah pengobatan berjalan 15 hari, 87% pasien yang diobati dengan Madu sembuh sedangkan yang diobati dengan SS hanya 10% yang sembuh.
• Penelitian pada tahun 1992 dan 1993 juga membuktikan bahwa dari pasien luka bakar yang diobati dengan Madu, hanya 20 % yang menyisakan bekas luka ditubuhnya – sedangkan pengobatan modern dengan obat yang mahal menyisakan sekitar 65 % pasien meninggalkan bekas luka.
• Dengan pengobatan Madu yang dicampur dengan minyak zaitun dan lilin lebah para dokter di Dubai Specialized Medical Center dibawah pimpinan Noori Al Waili telah berhasil mencapai tingkat penyembuhan tertinggi 86 % untuk penyakit infeksi kulit karena jamur.
• Noori Al Waili juga berhasil menyembuhkan sekitar 82 % dari pasien yang mengalami berbagai gangguan penyakit perut dyspepsia dlsb. dengan Madu.
• Percobaan lain terhadap 169 bayi dan anak-anak yang mengalami infeksi lambung menunjukkan bahwa Madu mengalami tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengobatan lainnya.
Tanya:
Bagaimana kita tahu bahwa suatu Madu itu asli atau tidak ?
Jawab:
Madu adalah produksi lebah yang penuh dengan tantangan bagi manusia untuk memahaminya, sampai zaman modern ini masih ada tidak kurang dari 15 jenis zat didalam Madu yang belum terdefinisikan oleh ilmu pengetahuan modern dan belum diberi nama. Karena terbatasnya ilmu manusia tersebut, membuktikan suatu Madu adalah asli menuntut tantangan tersendiri juga. Namun setidaknya ada kesepakatan umum di seluruh negara bahwa Madu dikatakan asli apabila dalam proses produksi sampai hasil akhir tidak mengalami pencampuran dengan zat apapun – selain cairan alami yang dihasilkan oleh lebah tersebut diatas. Karena Madu alami (asli) memiliki komposisi kandunangan zat tertentu (sebagian sudah dikenali dan sebagian yang lain belum), maka keaslian Madu bisa di analisa melalui kandungan zat yang ada dalam Madu tersebut – yaitu pada zat yang sudah dapat dikenali.
Tanya:
Apakah ada standar keaslian dan kwalitas Madu yang dapat jadi rujukan ?
Jawab:
Sejauh ini tidak ada standar keaslian Madu di dunia, namun standar kwalitas hampir selalu ada di setiap negara. Asumsinya tentu Madu yang memenuhi standar kwalitas juga memenuhi keaslian yang dituntut, karena apabila ada pencampuran maka akan terganggulah kwalitas tersebut sehingga Madu yang tidak asli juga tidak akan memenuhi standar. Di Indonesia kwalitas Madu di atur melalui Standar Nasional Indonessia (SNI) no 01-3545-2004. Madu yang memiliki kwalitas SNI inilah yang paling aman menjadi rujukan kwalitas Madu asli di Indonesia saat ini.
Produsen ataupun pedagang Madu yang serius yang ingin memenuhi standar kwalitas sudah seharusnya selalu melakukan analisa kwalitas Madu sesuasai SNI 01-3545-2004 untuk meyakinkan bahwa Madu yang diproduksi atau dijualnya adalah Madu yang telah sesuai dengan SNI tersebut. Berikut adalah contoh hasil tes laboratorium independent Sucofindo dalam sertifikat no 0161602 untuk Madu dari Rumah Madu yang apabila dibandingkan dengan SNI untuk madu dapat dikatakan 100% memenuhi standar quality SNI.
Gambar 4. 1 : Contoh hasil uji kwalitas Madu berdasarkan SNI 01-3545-2004
Sumber: www.rumahmadu.com
Tanya :
Apa kegunaan Madu dan bagaimana menggunakannya ?
Jawab:
Penemuan-penemuan arkeologi sejak jaman kuno membuktikan bahwa Madu telah digunakan sebagai obat atau ramuan obat oleh perbagai bangsa; dalam agama Islam kegunaan Madu sebagai obat ini dikuatkan di dalam ayat Al Qur’an (QS An Nahl Ayat 68-69) dan beberapa hadits Nabi tentang pengobatan.
Penggunaan Madu yang paling umum adalah dengan diminum baik secara teratur untuk pengobatan pencegahan (preventive) maupun diminum untuk pengobatan penyembuhan (curative). Belakangan berbagai percobaan ilmiah juga membuktikan bahwa ternyata penggunaan Madu tidak harus melalui diminum, tetapi bisa juga secara efektif melalui penyuntikan maupun sebagai obat luar yang langsung dioleskan di bagian tubuh yang sakit atau luka.
Tanya :
Apa yang menjadikan Madu dapat digunakan sebagai obat ?
Jawab:
Ketika Allah menyebutkan Madu sebagai obat 14 abad yang lalu, saat itu ilmu pengetahuan manusia masih sangat terbatas. Belakangan mulai terungkap secara ilmiah mengapa Madu bisa menjadi obat. Perlu juga diingat bahwa apa yang disebut di dalam Al Qur’an akan langgeng kebenarannya sampai akhir zaman, jadi yang terungkap sekarang secara ilmiah sangat bisa jadi belum sepenuhnya mengungkap penyebab sesungguhnya dari khasiat Madu untuk obat. Dari waktu ke waktu akan muncul penyakit baru dan perlu penyembuh baru – dan Madu akan selalu menjadi salah satu penyembuh ini (ini sudah terjadi ribuan tahun lalu dan akan terus terjadi sampai akhir zaman – sesuai kaidah kebenaran Al Qur’an sampai akhir zaman).
Sementara ini yang sudah terungkap secara ilmiah mengapa Madu dapat menjadi obat antara lain adalah sifat antimicrobial Madu yang disebabkan oleh kandungan kadar gula (mayoritas fruktosa) yang tinggi, kadar air yang rendah (banyak microorganism membutuhkan air untuk tumbuh), keasaman Madu dan yang tidak kalah penting adalah hydrogen - peroksida yang muncul dari reaksi glukosa dari Madu dengan air, hydrogen – peroksida (H2O2) inilah salah satu pembunuh microorganism yang utama.
Tanya :
Apakah Madu cocok untuk seluruh jenis penyakit ?
Jawab:
Di Al Qur’an Madu disebut ”....sebagai obat bagi manusia” (QS An Nahl 69) , tanpa menyebut sebagai obat untuk penyakit tertentu. Dengan demikian berarti Madu bisa jadi cocok untuk segala macam penyakit – termasuk penyakit-penyakit yang sekarang belum ketemu pengobatannya. Kita bisa yakin mengenai keandalan Madu sebagai obat ini karena ada ayatnya di Alqur’an dan dikuatkan oleh berbagai hadits Nabi, lebih jauh lagi dengan banyaknya zat yang ada di dalam Madu yang belum sepenuhnya bisa didefinisikan oleh manusia modern sekarang – memberikan harapan bagi kita bahwa Madulah jawaban atas problem kesehatan kita sekarang dan dimasa datang (karena apa yang ada di Al Qur’an dijamin kebenarannya sampai akhir Zaman). Diantara yang ada rujukannya atau sudah ada hasil research-nya antara lain adalah penggunaan Madu untuk pengobatan sakit perut, untuk pengobatan pancreatitis akut, pengobatan cancer, pengobatan tumor, pengobatan luka pada penderita diabetis, dan sebagai antibiotic untuk segala macam penyakit . Selain cocok untuk penyakit serius seperti cancer dan tumor (yang dibuktikan dalam riset Dr. Nada Orsolic dari University of Zagreb – Kroasia), Madu juga cocok untuk pengobatan ’penyakit’ sederhana seperti bisul, jerawat dan sejenisnya melaui proses osmosis yaitu Madu menyerap nanah/cairan yang terdapat dalam bisul dan sejenisnya.
Di mesir kuno lebih dari separuh resep pengobatan menggunakan Madu sebagai bahan utamanya, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penyakit dapat disembuhkan dengan Madu ini.
Perlu diingat meskipun dengan berbagai kasiat pengobatan yang terkandung dalam Madu, apabila dimungkinkan (ada biaya dlsb.) tetap kami anjurkan untuk penyakit-penyakit serius pasien juga berobat/berkonsultasi dengan dokter, rumah sakit dlsb. Madu aman dikonsumsi bersama dengan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter.
Tanya:
Apakah khasiat madu sebagai obat sudah pernah diteliti secara ilmiah ?
Jawab:
Di ayat 69 dari surat An Nahl Allah mengungkapkan madu sebagi obat bagi manusia artinya manusia keseluruhan – sepanjang jaman – tidak terbatas pada umat Islam saja. Hal ini diketahui para sejarahwan yang menemukan bahwa lebih dari separuh resep pengobobatan mesir kuno ternyata menggunakan madu sebagai bahan utamanya. Juga tidak terhitung jumlahnya resep madu sebagi obat dari berbagai kebudayaan bangsa-bangsa lain yang pernah ada maupun yang masih ada di bumi.
Di jaman modern sekarangpun para ilmuwan dan praktrisi medis di berbagai negara terus giat melakukan berbagai percobaan pengobatan dengan madu, diantaranya yang menarik adalah hasil penelitian Dr. Nada Orsolic dari University of Zagreb – Kroasia, pada binatang pecobaan yang menunjukkan hasil sebagai berikut:
• Binatang yang diberi makan madu sebelum diinjeksi dengan sel tumor ternyata memiliki pertumbuhan sel tumor yang lebih lambat.
• Binatang yang diberi royal jelly (produk lain dari lebah) ternyata memiliki penyebaran cancer yang rendah setelah diinjeksi dengan sel tumor.
• Injeksi venom lebah pada tumor menyebabkan tumor mengecil.
• Injeksi dengan propolis (produk lain lagi dari lebah) menurunkan pertumbuhan tumor dan meningkatkan usia dari binatang percobaan.
Tanya:
Apakah ada contoh keberhasilan pengobatan madu yang lebih baik dari obat buatan manusia ?
Jawab:
Berikut adalah contoh yang kami kutip dari Journal of Family Practice :
Diceritakan di dalam journal tersebut seorang laki-laki yang berusia 79 tahun dan menderita diabetes golongan 2 yang sudah parah. Segala bentuk pengobatan modern telah ditempuh bahkan lelaki ini selama 14 bulan telah lima kali masuk rumah sakit dan 4 kali menjalani operasi. Biaya yang dikeluarkan telah mencapai US$ 390,000,- (Sekitar 3.5 milyar rupiah). Dengan segala upaya tersebut luka yang menganga di dua tempat sebesar 8 cm x 5 cm dan 3 cm x 3 cm tetap tidak sembuh meskipun telah diberi antibiotic terbaik yang ada. Bahkan lelaki tersebut telah kehilangan dua jarinya.
Lebih buruk lagi, dua team dokter yang menangani pasien tersebut berusaha meyakinkan pasien bahwa ia perlu diamputasi kakinya mulai lutut ke bawah karena apabila tidak maka nyawanya terancam. Pasien menolak amputasi tersebut dan sebelum dia mendapatkan informasi tentang madu, pasien ini kehilangan satu jari lagi.
Setelah mendapatkan informasi tentang madu, pasien ini mulai membeli madu di super market – mengoleskan pada luka-lukanya dan meninggalkan pengobatan dengan antibiotic lainnya. Karena pengobatan sekarang hanya dengan madu maka biayanya menjadi jauh lebih murah.
Dua minggu setelah menjalani pengobatan dengan madu, jaringan di tempat lukan mulai hidup kembali. Dalam rentang waktu 6 – 12 bulan, pasien tersebut telah sepenuhnya pulih kembali dan lukanya tidak kambuh kembali.
Tanya:
Apakah madu juga dapat digunakan sebagai antibiotik ?
Jawab:
Meskipun lebih dari 1400 tahun lalu Allah melalui ayat-ayat Al-Qur’an telah memberitahukan bahwa madu sebagai obat, baru beberapa tahun belakangan para ilmuwan membuat berbagai penelitian mengenai kemampuan madu sebagai obat.
Salah satu peneliti yang sangat mendalami masalah madu ini adalah Peter Nolan seorang ahli riset biokimia dari The University of Waikato – New Zealand. Peter Nolan mempunyai cerita favorit mengenai keandalan madu sebagai antibiotic ini, yaitu berdasarkan pengalaman langsung yang dialami seorang remaja Inggris berusia 20 tahun yang luka di tangannya tidak mempan diobati oleh berbagai jenis antibiotic. Remaja ini kemudian mendengar tentang pengobatan dengan madu dan minta dokternya untuk mengobati dengan madu. Karena berbagai cara telah dilakukan, maka team dokterpun tidak keberatan untuk mencoba cara lain dengan madu ini. Setelah pengobatan dengan madu berjalan selama satu bulan, ternyata luka di tangan remaja tersebut benar-benar sembuh dan tangannya dapat berfungsi kembali.
Selain madu ternyata dapat menumpas spesies microbial yang resistance terhadap antibiotic buatan manusia. Penggunaan madu sebagai antibiotic ternyata juga memiliki beberapa keunggulan antara lain :
• Pengobatan dengan madu tidak menimbulkan infalamsi.
• Madu menyebabkan rasa sakit berkurang
• Madu membersihkan infeksi
• Madu menghilangkan bau pada luka
• Penyembuhan berjalan cepat tanpa menimbulkan bekas luka
• Madu bersifat antimicrobial yang dapat mencegah microba tumbuh
• Tidak menimbulkan rasa sakit pada saat penggantian pembalut karena tidak lengket.
• Mempunyai stimulatory effect yang mempercepat tumbuhnya jaringan tubuh kembali.
Hasil riset di universitas tersebut juga membuktikan madu lebih effective dari antibiotic buatan manusia seperti silver sulfadiazine.
Subhanallah, tanpa bukti inipun kami percaya kepada firmanMu ya Allah; kami percaya kepada sabda Rasulmu….bukti ilmiah ini hanya sebagai tambahan ilmu bagi kami…dan hujjah untuk menjelaskan kepada orang yang belum yakin akan kebenaran firmanMu.
Tanya :
Apakah seluruh Madu memiliki kasiat yang sama ?
Jawab:
Karena Madu dihasilkan oleh lebah dari sari bunga yang berbeda-beda, tentu komposisi yang ada di satu Madu bisa berbeda dengan Madu lainnya. Jadi adalah wajar apabila suatu Madu lebih cocok untuk penyakit tertentu, dan Madu lain lebih cocok untuk penyakit lainnya. Namun secara umum zat-zat penyembuhan terdapat di seluruh Madu sejauh Madu tersebut benar-benar asli.
Memang ada yang bilang Madu arab adalah yang terbaik sehingga dijual sangat mahal, namun sejauh ini belum terbukti secara ilmiah bahwa Madu arab memiliki komposisi yang jauh berbeda dari Madu-Madu lainnya. Meskipun demikian diakui bahwa secara alami Madu dari daerah yang memiliki kelembaban udara rendah seperti di arab, otomatis memiliki kadar air yang rendah. Itulah sebabnya Madu arab cenderung kental hampir menyerupai jeli. Memang efektifitas penyembuhan Madu salah satunya tergantung kadar air ini, semakin rendah akan semakin efektif Madu sebagai obat. Jadi Madu arab yang sudah terbukti kelebihannya adalah di faktor kadar air ini.
Meskipun demikian dengan perkembangan teknologi pasca panen Madu yang baik, sekarang sangat memungkinkan Madu Indonesia-pun dapat menyamai Madu arab dalam hal kadar air tersebut. Beberapa jenis produk Madu dari Rumah Madu (tipe gold dan tipe platinum) telah mengalami proses penurunan kadar air yang paling aman sehingga dari kadar airnya akan dapat menyamai atau bahkan lebih rendah kadar airnya dari kadar air Madu arab.
Tanya:
Bagaimana memilih Madu yang baik ?
Jawab:
Madu yang baik adalah yang memenuhi standar dari yang berwenang di suatu negara. Di Indonesia tentu standar ini adalah SNI. Kemudian Madu yang telah memenuhi standar tersebut juga bisa berbeda dalam hal misalnya kadar airnya tersebut diatas. SNI hanya mensyaratkan kadar air maksimum 22 %, namun Madu yang paling baik baik kadar airnya dibawah 17.1 % atau bahkan ada yang lebih rendah dari 15%. Madu yang kadar airnya rendah selain akan tahan sangat lama disimpan (temuan dari piramid mesir bisa ribuan tahun) juga akan lebih efektif kasiatnya untuk pengobatan. Berdasarkan kadar airnya, di Amerika Madu digolongkan menjadi tiga yaitu Grade A dan B dengan kadar air maksimum 18.5% dan Grade C yang memiliki kadar air maksimum 20%.
Tanya:
Mengapa kadar air menjadi salah satu faktor yang penting dalam memilih Madu ?
Jawab:
Secara inherent (penyebab sendiri atau disebut inherent vice) Madu hanya akan bisa rusak oleh proses fermentasi dan ini hanya terjadi apabila yeasts (ragi) yang ada di dalam Madu mendapatkan kandungan air yang cukup. Semakin rendah kadar airnya, maka peluang fermentasi didalam Madu akan semakin kecil dan akhirnya berhenti tidak terjadi sama sekali fermentasi apabila kadar air Madu dibawah 17.1 %. Madu-Madu yang bertahan sangat lama (sampai ada istilah Very Old Honey) adalah Madu yang memiliki kadar air sangat rendah tersebut. Selain ketahanan dalam penyimpanan, kadar air yang rendah dalam Madu membuat sangat sedikit (atau tidak ada) molekul air yang bebas didalam Madu. Tidak adanya molekul yang bebas tersebut membuat microorganism tidak dapat tumbuh dalam Madu. Selain daripada itu, dalam mengobati luka misalnya – Madu digunakan karena sifat osmotic-nya (atau sifat menarik/menyerap air) – dan kemampuan menarik air akan lebih kuat apabila Madu memiliki kadar air yang rendah. Disinilah pentingnya memilih Madu yang berkadar air rendah untuk pengobatan –terutama untuk pengobatan luar.
Tanya :
Apakah keaslian Madu bisa di tes dengan cara yang sederhana ?
Jawab:
Banyak sekali tes/deteksi keaslian Madu secara tradisionil yang sederhana yang sering dipakai masyarakat seperti perembesan di kertas koran, tidak dimakan semut, ujung korek api yang dicelupkan Madu tetap bisa menyala, menggumpalkan (coagulasi) kuning telur dan mungkin masih banyak lagi. Tidak satupun tes-tes sederhana ini yang bisa didukung dengan argumentasi ilmiah atas kebenarannya. Tes-tes sederhana tersebut bisa jadi cocok untuk Madu tertentu pada kondisi/lingkungan tertentu tetapi tidak bisa digeneralisir untuk seluruh Madu.
Hanya satu tes sederhana yang relatif dapat didukung kebenarannya secara ilmiah baik secara teori maupun tes di lapangan yaitu melaui penetesan Madu kedalam air dingin. Madu asli akan terus turun kebawah/dasar air karena berat jenisnya yang jauh lebih tinggi dari air (sekitar 1.42) dan tidak membuat air keruh ( tercampur Madu) karena aktifitas air (water activity) yang rendah dari Madu tersebut. Yang sejalan dengan tes ini adalah dengan menuang ½ atau satu sendok Madu kedalam piring yang terisi air, kemudian memutar piring kekiri terus menerus – maka sebelum Madu bercampur air, Madu akan membentuk kumpulan segi enam yang menyerupai sarang lebah.
Tanya :
Apakah Madu aman bagi para penderita diabetis ?
Jawab:
Penderita diabetis umumnya mempunyai masalah dalam produksi insulin yang digunakan untuk memecah zat gula (terutama sukrosa yaitu jenis gula disakarida) yang masuk kedalam tubuh agar bisa diserap oleh tubuh. Dalam hal Madu, rasa manis yang dihasilkan oleh Madu adalah dari jenis gula yang berbeda (terutama fruktosa yaitu jenis gula monosakarida) yang langsung dapat diserap oleh tubuh tanpa membutuhkan enzym. Jadi Madu adalah pemanis alami yang aman bagi penderita diabetis. Bahkan sudah terbukti secara ilmiah bahwa Madu juga sangat efektif untuk pengobatan luka yang timbul karena penyakit diabetis ini. Salah satu yang telah membuktikan keamanan Madu untuk penderita diabetis ini adalah Dr. Jamal Burhan dari Universitas Iskandariyah Mesir.
Pemahaman awam bahwa diabetes disebabkan oleh gula dan oleh karenanya orang yang sakit diabetes harus menghindari yang manis-manis, ternyata tidak sepenuhnya benar. Ternyata tidak seluruh rasa manis dapat menyebabkan diabetes. Rasa manis dari madu ternyata aman bahkan bagi penderita diabetis.
Lebih jauh lagi, madu ternyata juga sangat efektif untuk mengobati luka akibat sakit diabetes yang sudah parah – dan ketika seluruh jenis obat sudah tidak mempan lagi.
Tanya:
Bagaimana cara penggunaan Madu untuk obat luar ?
Jawab:
Dalam uraian lain di buku ini dijelaskan beberapa bukti mengenai efektifitas madu dalam penyembuhan luka, berikut adalah penerapan yang direkomendasikan.
1. Jumlah madu yang diperlukan tergantung dari cairan yang keluar dari luka. Frequency penggantian pembalut madu tergantung dari berapa cepat madu tercampur dengan cairan yang keluar dari luka. Untuk luka yang tidak mengeluarkan cairan, penggantian pembalut dapat dilakukan dua kali dalam satu minggu.
2. Penerapan yang baik adalah madu ditaruh dahulu pada pembalut yang dapat menyerap madu, karena apabila dituangkan langsung ke luka akan menyebar kemana-mana dan tidak mengenai sasaran.
3. Madu umumnya tidak langsung terserap ke pembalut tetapi melaui pelekatan pembalut pada bagian tubuh yang luka dan pengaruh panas tubuh. Apabila madu terlalu kental dapat dicairkan dengan air sebanyak 1/20 bagian madu.
4. Pada kondisi tertentu madu dapat dioleskan langsung ke bagian tubuh yang luka baru kemudian ditutup dengan pembalut yang adhesive, namun cara ini tidak direkomendasikan bila luka mengeluarkan cairan.
5. Untuk luka yang mengeluarkan cairan yang banyak, pembalut madu yang kedua dapat diterapkan diatas pembalut yang pertama untuk menampung rembesan cairan dari pembalut pertama. Pembalut kedua ini sebaiknya digunakan jenis polyurethane karena apabila digunakan pembalut yang menyerap ak